Jumat, 05 November 2010

Di Ujung Cerita (edisi Revisi)

Di atas gedung kosong yang menjulang tinggi duduk lah seorang steny yang hatinya pun seperti gedung tersebut. Sambil termenung, dia menengadah ke atas langit sore yang mulai mengabu. Menjadikan suasana makin kelabu. Tak terasa air mata nya mengalir tak terbendung. Menyapa pipi, bibir, dagu dan sukses membasahi baju nya. Betapapun dia berusaha mengusap nya, air mata itu tetap mengalir. Makin deras.

Terdengar langkah kaki yang mulai menelusup. Menaiki anak tangga satu demi satu. Makin lama suara itu makin jelas saja. Steny membalikkan badan nya. Tak ada kata, hanya senyum simpul yang menyapa lelaki berperawak tegap dan gagah tersebut. Ternyata itu Steve, teman sekolah nya.

Steve hanya duduk diam di samping Steny. Tak ada yang dia katakan hingga sepuluh menit berikutnya. “ Menangis lah steny, biarkan beban itu keluar bersama air mata mu” . Steny tak menjawab dia malah makin menangis dan terus menangis seperti berusaha mengeluarkan sesuatu.

Steve membuat Steny membuka mulut nya. Menceritakan semuanya. Sesuatu yang tak pernah Steny ceritakan pada siapapun. Kau tahu bagaimana rasanya mencurahkan beban pikiran mu kepada orang lain? Rasanya seperti pelari marathon yang menyerahkan tongkat kepada pelari berikutnya. Ini lah saat nya Steny menyerahkan tongkat nya kepada Steve.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Waktu memang akan terus berlari, dia tak memiliki waktu untuk menunggu kita yang jalan begitu lambat. Sudah saatnya Steny pulang, senja harus berganti tugas dengan bulan. Langit malam mengusir indah nya senja sore itu. Dua langkah kecil menyusuri trotoar jalan. Suara bising mobil dan gegap gempita lampu jalanan seakan mengantar mereka menuju tujuan.

Tiba-tiba hujan turun seperti ingin ikut mengiring dua langkah kecil itu pulang. Udara begitu dingin, tapi Steny merasakan kehangatan di tangan nya. Ternyata tangan Steve telah menggenggam erat jemari Steny yang mungil. Tak terasa tangis Steny kembali mengalir. Namun kupastikan tangis nya tak akan kelihatan. Tersapu oleh hujan. Steve senang sekali melihat steny menari bersama hujan tak karuan. Namun dia tak pernah menyadari bahwa tetesan air di dekat mata Steny bukan lah air hujan.

Steny telah sampai di depan rumah nya. Steve pun melepaskan genggamannya. Mengisyaratkan bahwa tugas nya telah selesai menjaga Steny hingga kembali pulang.

Steny berlari kecil melangkahkan kaki nya untuk masuk ke dalam rumah. Sementara Steve tak melepaskan pandangan nya hingga Steny membalikkan badan dan mengucapkan sesuatu. Tapi suara hujan terlalu riuh rendah membuat Steve mengernyitkan dahi nya. Namun Steve bisa membaca gerak bibir Steny yang berkata “ Terimakasih karena telah mengajak ku menari bersama hujan”

Steve menyusuri hujan melewati jalan yang tadi dia lewati bersama Steny. Hujan memang bisa meresonansikan kenangan. Seperti roll film yang diputar kembali, terlihat di sudut jalan itu bayangan Steny yang sedang tertawa sambil menari tak karuan. Terlihat bayangan diri nya yang tak berhenti tersenyum menatap Steny yang sedang kehujanan.

Steve pun kembali berjalan mengarah ke gedung kosong itu. Kini langkah kaki nya begitu berat tak seringan ketika berjalan bersama Steny. Dia sendirian di gedung kosong itu, cerita Steny tadi masih terngiang-ngiang di benak nya. Kini Steve duduk tepat dimana dia menemukan Steny untuk pertama kali nya. Steve menundukkan kepala dan memeluk kedua lutut kaki nya. Sambil menangis dia bergumam dalam hati “seharusnya orang itu aku.....”


BY      : xgumcht
Editor : NoName(atas permintaan sang editor yang tidak mau dipublikasikan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar