sore hari itu steny duduk termenung di atas sebuah gedung kosong. Kebetulan langit pada sore itu sedang mendung. Dengan pandangan yang hampa steny memandangi langit yang mendung itu, tak terasa air mata steny menetes dan mengalir menelusuri pipi, bibir, dagu dan kemudian turun jatuh dan membasahi bajunya. Tanpa sadar tangannya pun mengusap air matanya. Namun tanpa ia sadari juga air matanya terus menetes keluar dari dua matanya yang mulai memerah.
kemudian dari arah belakang terdengar suara langkah seperti seseorang yang menaiki anak tangga. suara itu makin terdengar jelas dan mulai mendekat. lalu steny membalikan arah pandangannya kebelakang. Dia melihat sosok seorang pria tegap dan gagah. Pria itu tidak asing bagi steny, dia adalah steve. Steve adalah teman steny di sekolah.
Lalu steve mulai mendekati steny. Dengan senyumannya yang khas dia bertanya dan sedikitn bercanda kepada steny, "kenapa dengan matamu sten?ganguan syaraf air mata yah?hehe". Steny tidak berusaha menjawab pertanyaan steve, dia hanya mengeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum kecil.
steve pun duduk disamping steny. steve membuka obrolan lagi dengan steny, dan kali ini steve berhasil membuat steny berbicara. terjadilah pembicaraan dua arah diantara mereka. ketika obrolan diantara mereka sudah terasa hangat steny pun mulai terasa nyaman. Akhirnya steny berani menceritakan masalah yang sedang dia hadapi kepada steve. Dengan serius steve pun mendengarkan apa yang stenyb ucapkan kata demi kata.
Namun steve tidak memberikan komentar sedikitpun atas apa yang steny ceritakan. Steve kadang-kadang bereaksi hanya dengan memberikan sebuah senyuman kecil. Tapi hal itu membuat steny merasa tenang , ia merasa sebagian bebannya telah hilang. Tak terasa mereka melewati beberapa jam di gedung itu.
Ketika senja itu mulai beranjak malam steve mengajak steny untuk pulang. Steve pun berdiri dan meraih tangan steny untuk membantunya berdiri. Kemudian keduanya pun menuruni gedung itu. Mereka berjalan menelusuri trotoar jalan. Ditengah perjalanan, hujan pun turun. Lalu steve meraih tangan steny lagi dan mereka pun berlari untuk menghindari air hujan. Namun itu sia2 saja, hujan terlalu besar dan tetap membasahi mereka berdua.
sesampainya di depan rumah steny, steve pun melepaskan genggaman tangannya. dan membukakan pintu pagar rumah steny. lalu steny pun berjalan menuju pintu rumahnya.
mata steve tidak terlepas dari langkah steny sampai dia berada di depan pintu rumahnya. Sesampainyabdi depan pintub rumah, steny membuka pintunya kemudian ia membalikan badannya. Steny tersenyum dan dia mengucapkan sesuatu kepada steve , tapi suara hujan yang begitu besar menutupi suara dari steny. Steve tidak bisa mendengarkan apa yang steny katakan, namun dari gerak bibirnya steve dapat membaca apa yang steny katakan, steny berkata "terima kasih untuk sore yang menyenengkan". lalu steve pun membalas dengan sebuah senyuman. Kemudian steny pun masuk kedalam rumah.
setelah steve benar-benar melihat steny masuk kedalam rumah, ia pun kembali berjalan. Namun jalur yang ia lewati adalah jalur yang sama yang ia dan steny lewati. Jalur itubadalah jalur menuju gedung tadi. Namun kali ini steve tidak berlari,ia hanya berjalan menunduk . bajunya pun makin kuyup karena air hujan makin membasahi tubuhnya.
Sesampainya di gedung tua itu steve mulai melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Lalu sampailah ia dilantai tempat dimana dia dan steny menghabiskan waktu sore mereka. Steve pun duduk tepat di tempat steny duduk. kemudian ia memeluk kedua lutut kaki dengan kedua tangannya. Ia hanya duduk seperti patung, tak bergerak juga tak berbicara. Namun tak lama kemudian ia bergerak, ia mulai menundukan kepalannya. Lalu terdengar suara tangisan, tangisan dari seorang pria. Iya benar, itu tangisan steve.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar